Rabu, April 15, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaUncategorizedHANCURNYA JALAN KAMI

HANCURNYA JALAN KAMI

Judul diatas mengingatkan saya pada seorang budayawan Minang terkenal pada masanya: Ali Akbar Navis.
Ya, dia si Penulis Cerpen: Robohnya Surau Kami.
Bila A.A Navis menulis cerpennya sebagai representasi keadaan sosiologis-cultural-fiksi pada masa itu, Judul diatas adalah representasi riil yang kami hadapi sehari-hari di Mentawai. Berbicara jalan, membangkitkan adrenalin yang emosional karena kenyataan paradoksalnya. Jalan kami, tak ada biaya pengasuhan. Sementara kami, mengais sisi-sisi jalan atau bagian jalan yang sedikit lebih dangkal hanya untuk dapat lewat. Beda dengan kilauan aspal dan beton diluar sana. Disana, mereka melewati jalan tanpa keputus-asaan, penuh harapan perbaikan ekonomi, penuh sematan keberhasilan pembangunan.

Kami….?????

Ya…walau kenyataan tidak sebaik gambaran ideal, saya dan kita tidak akan pernah menyerah. Kita tangguh oleh keadaan. Meminjam istilah Filsuf Erich Fromm, kita survive oleh keadaan maka hal ini akan menjadi pemantik untuk “Merdeka dari Ketertinggalan”.

Apapun yang terjadi, kita “sisir” satu-satu agar jalan kita dapat disegerakan. Menjadi sebuah janji ketika belum terwujud, menjadi pelecut ketika harapan itu kuat dan menjadi syukur ketika itu terealisasi.

Nen!!!

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Populer

Recent Comments