Rabu, Maret 25, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaBerita UtamaTerancam Punah! Enam Primata Endemik Khas Mentawai Ini Harus Dilestarikan

Terancam Punah! Enam Primata Endemik Khas Mentawai Ini Harus Dilestarikan

Habitat primata Mentawai itu terancam penebangan hutan dan perburuan

ALITO – Departemen Biologi Universitas Andalas (Unand) melaporkan, bahwa sebanyak 6 primata endemik di Mentawai terancam punah.

Hal itu terungkap dari survei Departemen Biologi Unand yang berlangsung pada tahun 2023 lalu.

Adapun survei tersebut dilakukan di beberapa pulau yang ada di Mentawai, di antaranya Siberut, Pagai Utara, Pagai Selatan dan Sipora.

Dikutip dari Tempo, survei tersebut menemukan bahwa habitat primata Mentawai memang terancam penebangan hutan dan perburuan.

Pendapat tersebut diungkapkan oleh Ketua Pelaksana Pendidikan Konservasi Primata Mentawai dari Universitas Andalas, Rizaldi.

Ia mengatakan, Mentawai sebagai habitat primata itu sebenarnya memiliki area konservasi kecil berupa suaka margasatwa di Pulau Pagai Selatan.

Namun, menurut dia, area konservasi tersebut tidak berfungsi secara optimal karena nihil penjaga.

“Primata endemik di sana tidak punya kawasan konservasi.”

“Sedangkan di Pulau Siberut, pulau terbesar di Kepulauan Mentawai, masih punya taman nasional yang cukup luas,” katanya dilansir dari sebuah pemberitaan Katasumbar.

Adapun primata endemik yang terancam punah itu adalah Owa Mentawai (Hylobates klossii) atau Bilou, Simakobu (Simias concolor), Atapaipai (Presbytis potenziani), Joja (Presbytis siberu), Siteut (Macaca pagensis), serta Bokoi (Macaca siberu).

Departemen Biologi Unand sebut Rizaldi, pun melakukan pendidikan konservasi primata endemik sebagai salah satu upaya pelestarian.

Pendidikan konservasi primata itu akan melibatkan sebanyak 10 mahasiswa program studi Biologi dan Antropologi Unand yang terbagi menjadi tiga tim.

Selain Unand, kegiatan pendidikan konservasi ini juga mendapatkan sokongan dari mahasiswa Kehutanan Universitas Muhamadiyah di Padang.

“Target program edukasi ini diutamakan untuk usia muda dari tingkatan sekolah dasar sampai sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA).”

“Dan juga komunitas masyarakat seperti karang taruna,” tutur dia.

Kepada Tempo ia memaparkan, dalam program edukasi itu, tim mahasiswa bakal menetap di kampung-kampung dan membaur dengan masyarakat setempat.

“Metode pengajarannya tidak di kelas, tapi langsung observasi ke lapangan,” kata Rizaldi.

Program pendidikan konservasi itu juga mencakup pendekatan budaya, dan menggali cerita lokal yang relevan dengan keragaman hayati dan konservasi di kepulauan tersebut.

Di sisi lain, tim Unand juga berupaya mengikis kebiasaan berburu primata di ketiga pulau.

Pasalnya, banyak pemuda lokal yang serin berburu primata sebagai hobi d waktu luang.

“Kegiatan berburu iniakan kita alihkan dengan kegiatan olahraga.”

“Tim akan membantu sarana olahraga yang dibutuhkan pemuda, seperti bola kaki, bola dan net voli,” pungkasnya.(*)

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Populer

Recent Comments